Terdengar
langkah kaki yang cepat. Berlari menerobos tebalnya semak belukar, seperti
sedang berlari dari sesuatu yang mengincarnya. Suaranya semakin mendekat
bersama guncangan yang kuat menggetarkan tanah bagaikan gempa. Bulu roma Nenek
berdiri, melihat seorang gadis cantik lari dari kejaran seekor beruang besar
dan menakutkan, melintas dihadapannya dalam sekejap. Gadis itu berlari ke arah
sungai, hendak menyeberangi arus yang deras untuk menghindari beruang. Aneh,
saat gadis itu mau menyeberang, air sungai seketika mendangkal dan mudah di lewati.
Sementara saat beruang hendak melewatinya, air sungai mendadak kembali deras
dan semakin deras dari sebelumnya. Beruang itu begitu marah, meraung keras
karena mangsanya terlepas.
“waspadalah
putri, aku akan menyiksamu sesaat setelah kudapatkan dirimu. Tunggu saja!”
Mengendus
ada manusia lain didekat situ, mata beruang lalu tertuju pada Nenek yang sedang
menatapnya. Beruang segera berlari dan berusaha menerkam. Nenek itu hanya
memiliki sebelah kaki kiri. Dia berusaha berlari dengan sekuat tanaganya, tapi
akhirnya terjatuh,tersandung akar pohon. Dia mencoba merangkak, melakukan
segala upaya terakhirnya untuk selamat dan menjauh dari beruang. Tetapi
usahanya sia-sia, karena beruang itu telah mencengkram kaki kirinya. Nenek itu
lalu masukan tangannya ke keranjang dan mengangkat tangannya tinggi dan
berteriak.
“ jadikan dia
anak laki-laki untukku!!!”
Dengan
sekejap cahaya mencul dari benda itu dan beruang telah menjadi seorang anak
remaja laki-laki yang tampan tapi sekuat beruang.
“jadilah kau
anakku yang setia”
Perintah
nenek pada anak lelaki dengan tatapan kosong itu. Segera anak itu memapah dan
menuntun nenek pergi menjauh dari tempat itu. Anak itu megitu taat bagaikan
seorang anak kepada ibunya.
Gadis
yang melihat kejadian itu merasa heran, belum percaya akan yang dilihat matanya.
Sesuatu yang belum pernah disaksikannya. Beruang yang begitu ganas telah
dirubah oleh seorang nenek menjadi anak lelaki yang penurut. Merasa tidak aman
sendiri dihutan, dia kembali menyeberangi sungai dan sungai kembali dangkal.
Sesuatu yang juga membuat gadis itu bingung. Lalu dia mengikuti nenek dan anak
itu, berharap mendapat pertolongan dari mereka dihutan yang asing dan berbahaya
itu. Sampai ditengah hutan, dia melihat nenek dan anak itu lalu masuk ke sebuah
gubuk reyot. Walaupun merasa ketakutan, dia tidak berani mendekat ke gubuk itu
untuk meminta tolong. Takut jika nenek itu juga jahat.
Dia
lalu segera mengumpulkan kayu bakar dan membuat api tidak jauh dari gubuk
nenek. Berpikir akan lebih aman jika tetap didekat gubuk, jadi lebih mudah
meminta tolong jika ada binatang buas. Tapi dia tak pandai membuat api dan tak
tau cara bertahan hidup di tengah hutan. Malam dan bulan pun terbit ditemani dinginnya
malam yang menggigit. Dia begitu marah akan nasibnya yang begitu buruk
manimpanya bertubi-tubi tanpa henti. Dedaunan terkatup pepohonan saling memeluk
karena kabut es dan dinginnya malam membekukan seisi hutan. Pasrah di sergap
dingin yang menusuk tulang dan bisa membunuhnya, gadis itu pun kelelahan dan
tertidur.
Saat
terbangun, sang gadis terkejut mendapati dirinya telah berada diranjang kayu
yang mungil didalam rumah kayu yang indah. Di sebuah meja, tersaji sup hangat
dan buah dengan kertas bertuliskan, “untukmu”. Karena sangat lapar, dia langsung
memakannya dengan lahap. Tau membalas budi, jadi untuk membalas kebaikan orang
yang menolongnya, dia membersihkan seisi rumah. Menyapu lantai, mengelap meja
dan lemari, sampai mengepel lantai memakai sapu tangan miliknya. Karena
kelelahan, dia pun tertidur pada sebuah kursi mungil.
Saat
membuka mata, telah berdiri anak kecil tersenyum menatapnya. Awalnya dia ikut
tersenyum, tapi lalu berubah jadi wajah yang memancarkan ketakutan dan
kengerian. Dia ingat anak itu yang dilihatnya bersama nenek. Anak yang muncul
dari cahaya, yang tidak lain beruang yang telah berubah menjadi anak laki-laki.
Dari balik pintu, muncul nenek membawa sekeranjang ubi jalar yang telah di
rebus.
“kau sudah
sadar?” sapa nenek sambil meletakkan keranjang itu di meja. “jangan takut, aku
tidak akan menyakitimu. Anak itu juga. Jadi tidak perlu ada yang kau
khawatirkan. Aku tidak tau siapa kau, tapi kau terlalu berani berkeliaran di
hutan ini, dan hampir saja mati kedinginan semalam jika saja anak ini tidak
menolongmu. Tidakkah kau tau, malam dihutan ini adalah kematian bagi manusia
dan hewan?”.
“maaf aku
tidak tau tentang hutan ini. Aku tersesat. Sampai akhirnya dikejar beruang
ganas yang tiba-tiba saja muncul dihadapanku" gadis itu menatap dengan
ngeri anak itu.