Selasa, 29 Desember 2015

KEJADIAN MISTERIUS

Terdengar langkah kaki yang cepat. Berlari menerobos tebalnya semak belukar, seperti sedang berlari dari sesuatu yang mengincarnya. Suaranya semakin mendekat bersama guncangan yang kuat menggetarkan tanah bagaikan gempa. Bulu roma Nenek berdiri, melihat seorang gadis cantik lari dari kejaran seekor beruang besar dan menakutkan, melintas dihadapannya dalam sekejap. Gadis itu berlari ke arah sungai, hendak menyeberangi arus yang deras untuk menghindari beruang. Aneh, saat gadis itu mau menyeberang, air sungai seketika mendangkal dan mudah di lewati. Sementara saat beruang hendak melewatinya, air sungai mendadak kembali deras dan semakin deras dari sebelumnya. Beruang itu begitu marah, meraung keras karena mangsanya terlepas.

“waspadalah putri, aku akan menyiksamu sesaat setelah kudapatkan dirimu. Tunggu saja!”

Mengendus ada manusia lain didekat situ, mata beruang lalu tertuju pada Nenek yang sedang menatapnya. Beruang segera berlari dan berusaha menerkam. Nenek itu hanya memiliki sebelah kaki kiri. Dia berusaha berlari dengan sekuat tanaganya, tapi akhirnya terjatuh,tersandung akar pohon. Dia mencoba merangkak, melakukan segala upaya terakhirnya untuk selamat dan menjauh dari beruang. Tetapi usahanya sia-sia, karena beruang itu telah mencengkram kaki kirinya. Nenek itu lalu masukan tangannya ke keranjang dan mengangkat tangannya tinggi dan berteriak.

“ jadikan dia anak laki-laki untukku!!!”

Dengan sekejap cahaya mencul dari benda itu dan beruang telah menjadi seorang anak remaja laki-laki yang tampan tapi sekuat beruang.

“jadilah kau anakku yang setia”

Perintah nenek pada anak lelaki dengan tatapan kosong itu. Segera anak itu memapah dan menuntun nenek pergi menjauh dari tempat itu. Anak itu megitu taat bagaikan seorang anak kepada ibunya.
Gadis yang melihat kejadian itu merasa heran, belum percaya akan yang dilihat matanya. Sesuatu yang belum pernah disaksikannya. Beruang yang begitu ganas telah dirubah oleh seorang nenek menjadi anak lelaki yang penurut. Merasa tidak aman sendiri dihutan, dia kembali menyeberangi sungai dan sungai kembali dangkal. Sesuatu yang juga membuat gadis itu bingung. Lalu dia mengikuti nenek dan anak itu, berharap mendapat pertolongan dari mereka dihutan yang asing dan berbahaya itu. Sampai ditengah hutan, dia melihat nenek dan anak itu lalu masuk ke sebuah gubuk reyot. Walaupun merasa ketakutan, dia tidak berani mendekat ke gubuk itu untuk meminta tolong. Takut jika nenek itu juga jahat.
Dia lalu segera mengumpulkan kayu bakar dan membuat api tidak jauh dari gubuk nenek. Berpikir akan lebih aman jika tetap didekat gubuk, jadi lebih mudah meminta tolong jika ada binatang buas. Tapi dia tak pandai membuat api dan tak tau cara bertahan hidup di tengah hutan. Malam dan bulan pun terbit ditemani dinginnya malam yang menggigit. Dia begitu marah akan nasibnya yang begitu buruk manimpanya bertubi-tubi tanpa henti. Dedaunan terkatup pepohonan saling memeluk karena kabut es dan dinginnya malam membekukan seisi hutan. Pasrah di sergap dingin yang menusuk tulang dan bisa membunuhnya, gadis itu pun kelelahan dan tertidur.
Saat terbangun, sang gadis terkejut mendapati dirinya telah berada diranjang kayu yang mungil didalam rumah kayu yang indah. Di sebuah meja, tersaji sup hangat dan buah dengan kertas bertuliskan, “untukmu”. Karena sangat lapar, dia langsung memakannya dengan lahap. Tau membalas budi, jadi untuk membalas kebaikan orang yang menolongnya, dia membersihkan seisi rumah. Menyapu lantai, mengelap meja dan lemari, sampai mengepel lantai memakai sapu tangan miliknya. Karena kelelahan, dia pun tertidur pada sebuah kursi mungil.
Saat membuka mata, telah berdiri anak kecil tersenyum menatapnya. Awalnya dia ikut tersenyum, tapi lalu berubah jadi wajah yang memancarkan ketakutan dan kengerian. Dia ingat anak itu yang dilihatnya bersama nenek. Anak yang muncul dari cahaya, yang tidak lain beruang yang telah berubah menjadi anak laki-laki. Dari balik pintu, muncul nenek membawa sekeranjang ubi jalar yang telah di rebus.

“kau sudah sadar?” sapa nenek sambil meletakkan keranjang itu di meja. “jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Anak itu juga. Jadi tidak perlu ada yang kau khawatirkan. Aku tidak tau siapa kau, tapi kau terlalu berani berkeliaran di hutan ini, dan hampir saja mati kedinginan semalam jika saja anak ini tidak menolongmu. Tidakkah kau tau, malam dihutan ini adalah kematian bagi manusia dan hewan?”.

“maaf aku tidak tau tentang hutan ini. Aku tersesat. Sampai akhirnya dikejar beruang ganas yang tiba-tiba saja muncul dihadapanku" gadis itu menatap dengan ngeri anak itu.

Nenek lalu bertanya mengapa sampai gadis yang cantik itu bisa sampai ke tengah hutan yang berbahaya dan liar itu. Gadis itu terdiam sejenak. Awalnya, wajah gadis itu penuh dengan keheranan, lalu berubah menjadi pucat dan sedih. Dan lalu bercerita panjang lebar tentang sebab dia berada di hutan yang tak dikenalnya itu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar